BREAKING NEWS

Sri Rejeki hadiri Women’s Committee ITUC-AP di BANGKOK THAILAND

Santang Media - Berita Nasional , · 183 Dilihat

BANGKOK THAILAND MEDIA VIKINEWS , 25 Agustus 2026 — Anggota Titular Member ITUC Women’s Committee dari Indonesia, Sri Rejeki, mengikuti pertemuan ITUC-AP Women’s Committee yang diselenggarakan di Bangkok, Thailand, pada 25–26 Agustus 2026. Pada hari pertama pertemuan, pembahasan utama difokuskan pada penguatan proses reconstitusi ITUC-AP Women’s Committee, khususnya untuk memastikan proses nominasi dan keterwakilan perempuan berjalan secara lebih jelas, transparan, konsisten, dan terlembaga.

Dalam pembahasan tersebut, para anggota menyoroti bahwa mekanisme nominasi dan pembagian kursi dalam Women’s Committee saat ini masih belum memiliki kriteria yang cukup jelas dan dalam praktiknya masih banyak bergantung pada proses yang berkembang serta keputusan regional caucuses. Kondisi tersebut dinilai berpotensi menjadikan keterwakilan perempuan sebagai bagian dari proses negosiasi dengan posisi di badan pengambilan keputusan ITUC-AP lainnya.

Konstitusi ITUC-AP memberikan ruang untuk melakukan perbaikan terhadap mekanisme tersebut karena belum mengatur secara rinci mengenai tata cara nominasi dan komposisi Women’s Committee. Namun demikian, Regional General Council (RGC) tetap menjadi lembaga yang memiliki kewenangan akhir dalam menetapkan komposisi serta Terms of Reference Women’s Committee.

“Ini adalah Meeting Women Committee ITUC pertama saya, saya harus banyak belajar kepada semua pihak yang terkait dalam kegiatan ini, dan tidak sungkan untuk berbagi pengalaman dan cerita kepada kolega dari India, Turki, Philipin, Israel, Australia, dan negara lainnya. “ Ujar Sri Rejeki

Dalam diskusi hari pertama, Sri Rejeki mencatat terdapat tiga pilihan utama yang menjadi bahan pertimbangan.

Pertama, mempertahankan model representatif dengan memperjelas dan memformalkan proses nominasi serta reconstitusi Women’s Committee.
Kedua, menerapkan model all-affiliate membership, di mana setiap national centre memiliki satu wakil, satu alternate, dan satu suara. Model ini dinilai dapat memperluas keterwakilan, namun juga memiliki konsekuensi terhadap peningkatan ukuran komite, biaya, serta kompleksitas pengelolaannya.
Ketiga, mempertahankan Women’s Committee sebagai badan representatif sekaligus membentuk Women’s Network yang terbuka bagi seluruh affiliates. Pendekatan ini dinilai dapat menjadi salah satu cara untuk memperluas partisipasi perempuan tanpa menjadikan Women’s Committee terlalu besar dan kompleks.
Diskusi menekankan bahwa proses reformasi tidak semata-mata diarahkan untuk memilih salah satu dari tiga pilihan tersebut. Hal yang lebih penting adalah membangun kesepakatan mengenai persoalan yang hendak diselesaikan melalui perubahan tersebut.

Perubahan yang diharapkan harus mampu melindungi mandat Women’s Committee, mencegah keterwakilan perempuan menjadi bagian dari bargaining politik, serta memperluas partisipasi perempuan, termasuk perempuan dari affiliates yang lebih kecil, kelompok yang selama ini kurang terwakili, dan emerging women leaders.

Menuju Representasi yang Lebih Inklusif
Arah yang paling kuat dalam pembahasan hari pertama adalah mencari keseimbangan antara efektivitas tata kelola dan partisipasi yang lebih inklusif. Salah satu pendekatan yang mengemuka adalah memperkuat Women’s Committee melalui prosedur reconstitusi yang lebih transparan, kemudian melengkapinya dengan Women’s Network yang memiliki ruang partisipasi lebih luas. Pendekatan tersebut selanjutnya dapat dipertimbangkan sebagai bagian dari rekomendasi yang akan disampaikan kepada RGC.

Sri Rejeki, sebagai Titular Member ITUC Women’s Committee dari Indonesia, turut menjadi bagian dari proses pembahasan tersebut. Forum ini menjadi ruang penting bagi perwakilan perempuan dari berbagai negara untuk memastikan bahwa penguatan struktur organisasi tidak hanya berbicara mengenai komposisi dan tata kelola, tetapi juga mengenai jaminan partisipasi perempuan yang lebih adil, inklusif, dan bermakna dalam gerakan serikat pekerja.

“Dalam kesempatan ini saya mencoba melakukan network building dengan Kaoru Hatakeyama dari Jepang tentang kebijakan salah satu anggota Federasi KIKES KSBSI yang mana kantor pusatnya berada di Jepang.” Tambahnya

Pengisian Posisi di Komite
Pada hari pertama pertemuan juga dilakukan pengisian beberapa posisi yang kosong dalam komite. Dalam proses tersebut, Gwyniver Mathay dari Filipina terpilih sebagai Wakil Ketua Kedua, sementara Kaoru Hatakeyama dari Jepang terpilih sebagai perwakilan sub-regional (Asia Timur) untuk Komite Perempuan ITUC

Pertemuan ITUC-AP Women’s Committee di Bangkok menjadi bagian penting dalam memperkuat peran perempuan dalam pengambilan keputusan di lingkungan gerakan serikat pekerja kawasan Asia Pasifik. Pembahasan mengenai reconstitusi dan perluasan partisipasi perempuan diharapkan dapat menghasilkan mekanisme yang lebih transparan sekaligus memberikan ruang yang lebih besar bagi perempuan dari berbagai latar belakang organisasi untuk berkontribusi dalam perjuangan pekerja.

Sri Rejeki
Titular Member
ITUC Women’s Committee – Indonesia

Penerbit Santang Prayoga
Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image

DUKUNG JURNALISME INDEPENDEN

Silakan berdonasi secara sukarela
sesuai kemampuan Anda.
Dukungan Anda membantu keberlangsungan Vikenews

KLIK UNTUK DONASI