Menjadi Jurnalis di Era Sekarang Itu Serba Salah Serba Bingung
0 menit baca
NASIONAL MEDIA VIKINEWS - Menjadi jurnalis di era sekarang bukan hanya soal mencari berita dan menyampaikan fakta kepada publik. Di balik profesi yang seharusnya menjadi pilar demokrasi itu, tersimpan persoalan klasik yang hingga kini masih sulit dihapus: stigma negatif terhadap wartawan.
Tidak sedikit jurnalis yang mengaku berada dalam posisi serba salah. Saat mengirim berita kepada pejabat untuk kebutuhan konfirmasi dan klarifikasi, niat profesional itu justru kerap disalahartikan. Upaya menjalankan prinsip cover both sides sering dianggap sebagai kode atau sinyal tertentu.
Bahkan, ketika media mengirim ucapan Hari Besar Islam atau selamat ulang tahun kepada instansi, sebagian pihak masih memandangnya sebagai bentuk pendekatan yang berujung pada permintaan uang.
Padahal, tidak semua jurnalis bekerja dengan orientasi materi. Banyak wartawan tetap bertahan di tengah minimnya honor dan tingginya risiko lapangan karena memegang tanggung jawab moral untuk menyampaikan fakta kepada masyarakat.
“Yang paling berat sebenarnya bukan pekerjaan lapangannya, tetapi prasangka yang terus melekat. Semua komunikasi dianggap transaksional,” ungkap salah satu jurnalis.
Stigma itu dinilai membuat hubungan antara media dan narasumber menjadi kaku. Pejabat menjadi enggan merespons konfirmasi, sementara jurnalis mulai ragu melakukan komunikasi karena takut dicurigai memiliki kepentingan tertentu.
Padahal, komunikasi yang sehat antara media dan narasumber merupakan bagian penting dalam menghasilkan pemberitaan yang berimbang dan akurat.
Oknum Jadi Pemicu Stigma
Fenomena tersebut tidak muncul tanpa sebab. Sejumlah oknum yang mengatasnamakan profesi wartawan dinilai menjadi pemicu utama rusaknya citra jurnalis di mata publik.
Modusnya beragam, mulai dari membawa berita negatif untuk menekan narasumber hingga meminta “uang koordinasi”, “uang pembinaan”, atau “uang bensin” agar pemberitaan tidak dipublikasikan.
Akibatnya, masyarakat dan pejabat sulit membedakan mana jurnalis profesional dan mana oknum abal-abal.
“Banyak orang akhirnya menyamaratakan semua wartawan. Padahal yang bekerja sesuai kode etik juga banyak,” ungkap seorang praktisi media.
Selain ulah oknum, minimnya literasi media juga memperburuk keadaan. Masih banyak pihak yang belum memahami bahwa konfirmasi kepada narasumber merupakan kewajiban jurnalistik yang diatur dalam Undang-Undang Pers Nomor 40 Tahun 1999.
Budaya “amplop” yang sejak lama dianggap lazim di sejumlah kegiatan juga ikut memperkuat stigma tersebut.
Menjaga Integritas di Tengah Tekanan
Di tengah situasi itu, jurnalis profesional dituntut bekerja lebih hati-hati dan transparan. Integritas menjadi modal utama untuk menjaga kepercayaan publik.
Ada beberapa langkah yang dinilai penting dilakukan wartawan agar tidak terjebak dalam persepsi negatif.
Pertama, tetap memegang teguh kode etik jurnalistik dan menjaga batas profesionalisme. Semua proses konfirmasi dan wawancara perlu terdokumentasi dengan baik sebagai bentuk pertanggungjawaban kerja.
Kedua, memisahkan komunikasi redaksional dan hubungan sosial.
Permintaan konfirmasi sebaiknya dilakukan melalui jalur resmi media, seperti email redaksi atau nomor kantor, bukan komunikasi pribadi.
Ketiga, memberikan edukasi kepada narasumber bahwa proses konfirmasi bukan bentuk tekanan, melainkan bagian dari mekanisme pemberitaan yang berimbang.
Selain itu, reputasi dinilai menjadi pelindung paling efektif bagi seorang wartawan. Konsistensi dalam menyajikan berita yang objektif dan tidak tebang pilih akan membuat publik perlahan mampu membedakan jurnalis profesional dari oknum yang menyalahgunakan profesi.
Bedakan Jurnalis Profesional dan Oknum Abal-Abal.
Jurnalis profesional bekerja berdasarkan fakta, data, serta kode etik jurnalistik.
Mereka meminta konfirmasi untuk kepentingan pemberitaan yang berimbang, bukan untuk mencari keuntungan pribadi.
Sebaliknya, oknum abal-abal biasanya menggunakan ancaman pemberitaan sebagai alat tawar-menawar demi mendapatkan uang atau fasilitas tertentu.
Perbedaan itu dinilai penting dipahami masyarakat agar kepercayaan terhadap profesi jurnalis tidak terus terkikis akibat perilaku segelintir orang.
Pada akhirnya, tantangan terbesar jurnalis bukan hanya mencari fakta, tetapi juga menjaga kepercayaan publik di tengah stigma yang sudah terlanjur terbentuk.
Sebab sejatinya, jurnalis profesional datang untuk meminta data, bukan dana.
Tubi